Dari Kebun Hingga Dapur, Petani Kota Ledhok Timoho Perjuangkan Kedaulatan Pangan

Dari Kebun Hingga Dapur, Petani Kota Ledhok Timoho Perjuangkan Kedaulatan Pangan

Pohon anggur yang masih muda itu hampir ambruk. Batangnya yang kurus tampak tak kuasa menahan dedaunannya sendiri. Dengan cekatan, Muji menggali lubang baru di tanah untuk menanam kembali pohon anggur tadi. “Ini harusnya digali dulu, terus dikasih batu biar pupuk cairnya tidak lari,” ujar Muji menjelaskan cara menanam pohon anggur pada kegiatan kerja bakti Kampung Ledhok Timoho pada Minggu (18-02). Kedua tangan Muji ramping, tapi dia dapat dengan mudah menyusun bebatuan untuk membentengi pohon anggur yang baru saja ia tanam.

Sejenak kemudian, Muji beralih ke empat bedengan sawah yang terhampar di Kebun Ledhok Timoho. Gundukan-gundukan tanah itu masih segar dan gembur. Beberapa menit lalu, Muji baru saja mencangkulnya.  “Aku nyirami dhewe. Saben jam 6 isuk,” tutur Muji sembari menebarkan benih-benih bayam. Setiap pagi, Muji selalu menyempatkan diri untuk menyirami tumbuhan yang ditanam di Kebun Ledhok Timoho.

Sejatinya pada tahun 2019 silam, Muji merawat Kebun Ledhok Timoho bersama 30 orang petani lansia lainnya. Namun, seiring berjalannya waktu, kehadiran petani-petani lainnya perlahan terkikis. Hingga pada akhirnya, tersisa Muji seorang diri yang senantiasa bertani di situ setiap paginya. “Aku kui wong tani ket biyen,” kisah Muji. Sedari ia masih belia, Muji sudah terbiasa mencangkul tanah dan menanam bibit tanaman. Namun, sawahnya di Wonosari itu terpaksa ia tinggalkan demi merantau di Yogyakarta. “Ning kono Wonosari kui, rejeki ne rodo angel,” keluh Muji kala mengingat kehidupannya di masa lalu. 

Sekalipun Muji sudah lama bermukim di Yogyakarta, sawah terasa selalu memanggil-manggilnya. Gairahnya untuk kembali bertani terwujud ketika Tani Lansia Produktif Ledhok Timoho berinisiatif mengelola lahan tak terpakai di sudut kampung mereka. Lahan yang mereka garap itu diapit oleh jalan trotoar yang tak rata dan bantaran sungai Gajah Wong. Hamparan sayur-mayur yang tumbuh di sana tampak kontras dengan bangunan-bangunan mewah perumahan elit yang mengepung area Kampung Ledhok Timoho. “Tanah ini udu nggone dhewe,” kisah Muji. “Ini tanah milik orang. Cuma sudah lama dijual, tidak laku-laku.”

“Daripada dibuat buang sampah, mending dinggo tani,” sambung Muji. 

Nantinya, segala hasil kebun akan dijual kembali pada warga Kampung Ledhok Timoho sendiri. “Harga ne luwih murah mbangane pasar,” tutur Muji. “Uangnya dipakai buat beli pupuk.”

Kendati demikian, Muji mengaku bahwa ia sudah dua kali mengalami gagal panen akibat hujan yang tak kunjung turun selama beberapa bulan terakhir. Sorot matanya tampak resah ketika ia memandangi bedengan-bedengan sawah yang baru saja ia sebari benih bayam. “Tapi, yo wes pie meneh. Mung iso pasrah,” ujarnya dengan lirih. 

Jelang tengah hari, Muji beralih ke sisi lain kebun. Kucing piaraannya berlari mengikuti Muji ketika ia mendaki anak tangga dari batu. Di atas bedengan sawah, ada sepetak lahan lain. Hijaunya dedaunan bayung terlihat menyemarakkan petak itu. “Dipetik sing enom-enom,” kata Muji. 

Kendati usianya telah mencapai 79 tahun, mata Muji masih jeli memilah-milah bayung yang warnanya masih hijau muda. Setiap kali Muji memetik bayung, terdengar bunyi renyah tangkai tumbuhan muda yang dipatahkan. Setelah dirasa cukup, Muji mengikat bayung-bayung tersebut dengan serat-serat pelepah pisang. “Iki meh tak sayur. Dimasak karo santen,” ucap Muji. Begitu ia selesai mengikat semua bayung yang ia petik, Muji beranjak pergi meninggalkan Kebun Ledhok Timoho. Kegiatan bertani Muji telah usai. Kini, saatnya bagi Muji untuk pulang dan memasak hasil panen hari itu. Di masing-masing lengannya, Muji menenteng empat ikat bayung segar yang akan menjadi santapannya hari itu.

No Comments

Post A Comment

Mulai Percakapan
Layanan Support
Selamat datang di website Solidaritas Perempuan Kinasih Yogyakarta!
Apa yang bisa kami bantu?